|
NO |
JUDUL |
PENULIS |
IDENTITAS
JURNAL |
SUBJEK
JURNAL |
HASIL
JURNAL |
|
1. |
Adult children of workaholics:
Self-concept, anxiety, depression, and locus of control |
Robinson, B. E., & Kelley, L. |
American Journal of Family Therapy,
26(3), 223-238. 1998 |
211 peserta dipilih dari mahasiswa
sarjana tradisional di University of North Carolina di Charlotte. 22% peserta
adalah laki-laki sebanyak 46 dan 78% peserta adalah perempuan sebanyak 165.
Usia rata-rata adalah 24 tahun (kisaran 18-55). |
Studi ini menemukan bahwa anak-anak
yang menganggap orang tua mereka sebagai workaholic
menunjukkan hasil yang lebih tinggi pada depresi dan locus of control eksternal. Anak-anak dari ayah workaholic juga menunjukkan hasil yang
lebih tinggi pada depresi, anxiety,
dan locus of control eksternal
daripada anak-anak dari ayah nonworkaholic
dan ibu workaholic. Sebagai pencari
nafkah utama keluarga, seorang ayah menjadi lebih agresif dan berusaha keras
mendukung keluarga secara ekonomi sehingga menetapkan tujuan yang lebih
tinggi untuk anak-anak mereka. Anak-anak dari workaholic atau anak-anak dari workaholic yang lebih muda menunjukkan hasil yang lebih negatif
pada self-concept. Pada saat
anak-anak dari workaholic menjadi
dewasa, self-concept yang rendah
dapat didorong oleh pencapaian luar mereka, yang berpotensi melucuti mereka
dari locus of control internal
mereka dan menutupi perasaan emosional yang lebih dalam. |
|
2. |
A cluster analysis of investigation of
workaholism as a syndrome |
Aziz, S., & Zickar, M. J. |
Journal of Occupational Health
Psychology, 11(1), 52-62. 2006 |
Peserta adalah 174 karyawan
profesional dari berbagai organisasi kerah putih (perusahaan konsultan,
minyak, lembaga pemerintah) yang berlokasi di Kanada (78%) dan Amerika
Serikat (22%). Terdiri dari laki-laki (56%) dan perempuan (44%). Usia mulai
dari 23-70 tahun, dengan usia rata-rata 43 tahun. |
Studi ini membuktikan bahwa workaholism sebagai sebuah sindrom di
mana masing-masing komponen seperti keterlibatan kerja yang tinggi, dorongan
kerja yang tinggi untuk bekerja, dan kenikmatan kerja yang rendah diperlukan
bagi seorang individu untuk diklasifikasikan sebagai workaholic. Studi ini juga menemukan bahwa workaholic mengalami lebih banyak ketidakseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan dan kepuasan hidup yang lebih sedikit daripada yang
tidak bekerja. Orang juga harus mencatat bahwa jam kerja sendiri tidak
menunjukkan workaholic. Banyak
alasan eksternal, seperti kebutuhan akan uang atau budaya organisasi, dapat
menyebabkan jam kerja yang panjang. Maka, workaholic
adalah (sebagian) orang-orang yang secara intrinsik termotivasi untuk bekerja
berjam-jam karena ketidakmampuan untuk melepaskan diri. |
|
3. |
Work engagement and workaholism:
comparing the self-employed and salaried employees |
Gorgievski, M. J., Bakker, A. B.,
& Schaufeli, W. B. |
The Journal of Positive Psychology,
5(1), 83-96. 2010 |
Peserta dalam penelitian ini adalah
pekerja Belanda dari berbagai perusahaan dan pekerjaan, yang berpartisipasi
dalam survei Internet sebanyak 2164. Terdiri dari 64% laki-laki dan 36%
perempuan dari usia 15-65 tahun dengan 55% rata-rata usia 25-44 tahun. Kemudian
88% karyawan bergaji dan 12% wiraswasta. |
Studi ini menunjukkan bahwa wiraswasta
memang memiliki lebih banyak hasrat untuk bekerja daripada karyawan bergaji. Mereka
bekerja lebih berlebihan dan melaporkan keterlibatan kerja (work engagement) yang lebih tinggi,
yang berhubungan dengan kinerja yang dilaporkan sendiri dengan lebih baik.
Mereka tidak bekerja lebih kompulsif. Bekerja secara kompulsif merupakan
sengatan dari workaholism. Bekerja
berlebihan dapat memberikan hasil yang lebih sedikit untuk workaholic dibandingkan dengan
individu yang terlibat. Oleh karena itu, mendorong dan menumbuhkan
pemeliharaan pandangan positif sangat penting bagi wiraswasta selama
masa-masa sulit. Studi ini juga menemukan bahwa bekerja berlebihan saja tidak
cukup untuk mendefinisikan workaholism.
Bekerja secara berlebihan sebagai kecenderungan yang tidak persisten juga
sampai batas tertentu mengindikasikan keterlibatan kerja (work engagement), dan mungkin dipicu
oleh karakteristik tertentu dari lingkungan kerja pada orang yang tidak
menunjukkan kecenderungan terhadap workaholism. |
|
4. |
For fun, love, or money: what drives
workaholic, engaged, and burned-out employees at work? |
van Beek, I., Qiao Hu., Schaufeli, W.
B., Taris, T. W., & Schreurs, B. H. J. |
Journal of Applied Psychology, 61(1),
30-55. 2012 |
Peserta adalah 544 perawat (538
perempuan dan 6 laki-laki) dan 216 dokter (132 perempuan dan 84 laki-laki). |
Studi ini menunjukkan bahwa workaholism, work engagement, dan burned-out
masing-masing terkait dengan regulasi motivasi yang mendasari prototipe.
Karyawan yang workaholic bekerja
keras karena mereka utamanya dimotivasi atau didorong oleh kebutuhan yang
kuat untuk membuktikan diri mereka dan karena mereka secara pribadi
menghargai hasil kerja mereka. Sementara karyawan yang terlibat (engaged employees) bekerja keras karena mereka utamanya tertarik oleh
pekerjaan mereka yang menyenangkan dan memuaskan. Sedangkan karyawan yang
mengalami kelelahan (burned-out)
tidak didorong atau tertarik untuk bekerja, melainkan mereka menjauhkan diri
dari pekerjaan mereka. |
|
5. |
Rise and shine: recovery experiences
of workaholic and nonworkaholic employees |
van Wijhe, C., Peeters, M., Schaufeli,
W., & Ouweneel, E. |
European Journal of Work and
Organizational Psychology, 22(4), 476-489. 2013 |
Peserta adalah 118 orang yang terdiri
dari 30 workaholic dan 88 nonworkaholic. 62 orang laki-laki (52,5%) dan 56
orang perempuan (47,5%), serta 71% diantaranya sudah menikah atau tinggal
dengan pasangannya. |
Studi ini menunjukkan bahwa workaholic menghabiskan lebih banyak
waktu untuk bekerja dan memiliki lebih sedikit pengalaman pemulihan (recovery) selama malam hari ketika
merasakan emosi negatif pada akhir hari kerja daripada nonworkaholic. Ini menunjukkan bahwa khususnya workaholic merasa sulit untuk secara
mental dan fisik menjauhkan diri dari tuntutan pekerjaan ketika berada dalam
suasana hati yang buruk. Selain itu, kurangnya pengalaman pemulihan (recovery) selama malam hari akan mengarah
pada pemulihan yang tidak lengkap. Studi ini juga menunjukkan bahwa perasaan
relaksasi dan melepaskan diri sepenuhnya penting untuk mengisi kembali sumber
daya seseorang. Dengan kata lain, workaholic
dapat menempatkan diri mereka dalam risiko kehilangan sumber daya karena
emosi negatif mereka menghambat investasi dalam sumber daya baru melalui pengalaman
pemulihan (recovery). |
Apakah kalian adalah seorang workaholic? Atau kalian hanya sekadar mencari tahu mengenai workaholic? Jika iya, maka kalian bisa mampir dan membaca postingan saya kali ini. Pada postingan kali ini, saya membawakan sekaligus lima buah jurnal internasional bertemakan workaholic yang sudah saya resume. Penasaran seperti apa isi atau hasil dari jurnal-jurnal tersebut? Berikut adalah resume dari jurnal-jurnal tersebut yang bisa kalian simak. Yuk!

Comments
Post a Comment