Pengertian Psikosomatis
Psikosomatis berasal
dari bahasa Yunani, yaitu psyche (jiwa)
dan soma (badan). Kartini Kartono
(dalam Zulfa, 2020) mendefinisikan psikosomatis adalah bentuk macam-macam
penyakit fisik yang ditimbulkan oleh konflik psikis dan kecemasan kronis. Wika
dan Yusleny (dalam Zulfa, 2020) juga menyebutkan psikosomatis adalah gangguan
fisik yang disebabkan faktor kejiwaan dan sosial emosi yang menumpuk serta
dapat menimbulkan guncangan dalam diri seseorang. Dari definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa:
Psikosomatis adalah penyakit fisik yang timbul
diakibatkan
Tanda-Tanda
Psikosomatis
Menurut
Hakim (dalam Pratiwi & Lailatushifa, 2012), keluhan-keluhan psikosomatis
dapat berupa:
-
Jantung berdebar-debar
-
Sakit maag, asam lambung naik
-
Sakit kepala (pusing, migraine)
-
Sesak napas, bernapas pendek seperti
hanya sebatas leher dan tak sampai ke paru-paru
-
Otot-otot terasa tegang/kaku
-
Susah tidur
-
Lesu, tidak punya tenaga
Mekanisme
Terjadinya Psikosomatis
Ketika
ada suatu stimulus emosi datang pada diri individu
kemudian akan ditangkap oleh panca indera, stimulus
tersebut diteruskan ke sistem limbik yang merupakan pusat emosi.
Dari sistem limbik, emosi disadari dan kemudian diambil keputusan-keputusan
untuk mengambil tindakan-tindakan, yang kemudian diekspresikan,
lalu muncul perintah-perintah dari sistem limbik yang disalurkan
melalui thalamus dan hypothalamus ke organ-organ yang kemudian diekspresikan
dalam berbagai bentuk perangai emosi, seperti muka yang cerah atau cemberut,
muka merah atau pucat, dan menangis atau tertawa. Jika dirasa stimulus tersebut berbahaya bagi individu, maka akan
menimbulkan reaksi psikis yang berwujud ketegangan emosi yang diikuti oleh
aktivitas organ tubuh secara hiperaktif, misal detak jantung yang
bertambah cepat, ketegangan otot atau meningkatnya tekanan darah. Apabila gangguan tersebut berlangsung terus-menerus, maka dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh, sehingga terjadilah psikosomatis
(Pratiwi & Lailatushifah, 2012).
Jenis-Jenis
Gangguan Psikosomatis
Jenis-jenis
gangguan psikosomatis digolongkan berdasarkan beberapa organ yang terkena,
diantaranya adalah sebagai berikut (Sarnoto, 2016)
1. Psikosomatis
yang menyerang kulit
Emosi
dapat menimbulkan gangguan pada kulit. Gangguan psikosomatis yang sering
menyerang kulit adalah alergi.
2. Psikosomatis
yang menyerang saluran/sistem pernapasan
Gangguan
psikosomatis yang sering timbul dari saluran pernapasan ialah sindrom hiperventilasi dan asma
bronkiale dengan bermacam-macam keluhan yang menyertainya. hiperventilasi
biasanya merupakan tarikan nafas panjang, dan dapat menjadi suatu kebiasaan, seperti
ada orang yang mengisap rokok bila ia tegang, yang lain mulai bernafas panjang.
Kecemasan dapat menggangu ritme pernapasan dan diketahui juga dapat menimbulkan
serangan asma. Stimuli emosi bersama dengan alergi penderita menimbulkan
kontruksi bronkoli bila sistem saraf vegetatif juga tidak stabil dan mudah
terangsang.
3. Psikosomatis
yang menyerang jantung dan pembuluh darah
Stres
yang menimbulkan kecemasan mempercepat denyut jantung, meningkatkan daya pompa
jantung dan tekanan darah, menimbulkan kelainan pada ritme dan EKG. Kehilangan
semangat dan putus asa mengurangi frekuensi, daya pompa jantung dan tekanan
darah. Adapun gejala yang sering didapati yaitu: Hipertensi, migren, sakit kepala vaskuler. Belum diketahui dengan
jelas berapa banyak pengaruh emosi dalam pembentukan hipertensi. Tetapi banyak
gejala yang dikatakan karena hipertensi sebenarnya disebabkan oleh emosi.
4. Psikosomatis
yang menyerang sistem pencernaan
Gangguan
saluran pencernaan sebagai manifestasi gangguan psikosomatis paling sering terdapat
dalam praktek, akan tetapi penderita harus diperiksa betul untuk menyingkirkan
penyebab somatogenik.
Gangguan
psikosomatik saluran pencernaan dapat menimbulkan berbagai gejala yang sering
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya:
a. Nafsu
makan berasal dari susunan syaraf pusat dan timbul karena ingatan dan asosiasi,
tetapi rasa lapar juga timbul karena gerakan saluran pencernaan yang agak
keras.
b. Muntah,
isi lambung disemprotkan ke luar sebab ada kontraksi otot-otot dinding perut
dan diafragma serta kardia dalam keadaan relaksasi. Muntah ialah suatu refleks
yang kompleks. Muntah dipengaruhi oleh banyak sentra yang lain antara lain:
pengaruh dari olfaktorius, dari penglihatan dan dari vertibularis.
c. Diare,
jalannya makanan terlalu cepat dan resorpsi air kurang sekali. Dan lain
sebagainya.
5. Psikosomatis
yang menyerang sistem endokrin
Sistem
endokrin memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan individu,
baik fisik maupun mental. Gangguan psikosomatik mengenai sistem endokrin yang
mungkin terjadi adalah hipertiroidi
dan syndrome menopause.
Sebelum
gejala-gejala hipertiroidi timbul sering didahului konflik atau stress dalam
hidup penderita. Hampir semua penderita mengalami krisis emosional sebelum
sakit. Sering gejala-gejala pada hipertiroidi hanya merupakan
mengerasnyasifat-sifat kepribadian yang ada sebelumnya, seperti: lekas
terpengaruh, mudah terkejut bila menerima suara atau cahaya keras, gugup, lekas
marah, rasa cemas yang ringan.
Dalam
syndrom menopause sering timbul gangguan jiwa dalam waktu ini yang merupakan
gangguan psikosomatis, nerosa ataupun psikosa.
6. Psikosomatis
yang menyerang otot dan tulang
Nyeri
otot atau mialgi sering terdapat dalam praktek. Kecuali hawa dan pekerjaan,
maka faktor emosi memegang peranan yang penting dalam menimbulkannya. Karena
tekanan psikologik, maka tonus otot meninggi dan penderita mengeluh nyeri
kepala, kaku kuduk dan nyeri punggung bawah. Ketegangan otot dapat menyebabkan
ketegangan sekitar sendi dan menimbulkan nyeri sendi.
7. Psikosomatis
yang menyerang alat kemih dan kelamin
Gangguan
psikosomatis yang sering menyerang alat kemih dan kelamin adalah nyeri di panggul, frigiditas, impotensi,
ejakulasi dini, dan mengompol (Pratiwi & Lailatushifah, 2012).
Orang Yang Rentan Terkena Psikosomatis
Menurut Hakim
(dalam Lailatushifah & Pratiwi, 20xx), ciri-ciri orang yang mudah terkena
psikosomatis adalah orang yang tidak mampu
mengendalikan emosinya. Namun, gangguan psikosomatis dapat timbul
bukan saja pada yang berkepribadian atau emosi labil, tetapi juga pada orang
yang dapat dikatakan stabil, atupun pada orang dengan gangguan kepribadian dan
pada orang dengan psikosa.
Menurut Teori
Kelemahan Organ (Theory Of Somatic Weakness), gangguan psikosomatis akan
terjadi pada seseorang yang mempunyai organ yang secara biologis
sudah lemah atau peka. Kelemahan bisa terjadi karena faktor genetik,
penyakit atau luka sebelumnya.
Teori Sindrom
Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrom) dari Hans Selse. Menurut
teori ini tubuh bereaksi terhadap stressor dalam tiga tahap :
1. Reaksi
alam yaitu mobilisasi sumber daya tubuh untuk mempersiapkan organisme untuk
pertahanan diri. Pada tahap ini tubuh melakukan berbagai reaksi misalnya sistem
syaraf otonom dirangsang sehingga meningkatkan aktivitas jantung, meningkatkan
tekanan darah dsb.
2. Resistansi
yaitu reaksi bertahan sampai mendekati batas adaptasi. Jika stressor berlanjut
dan tubuh berusaha terus untuk mempertahankan diri maka sumber daya tahan pun
habis dan resistansi tidak bisa dilanjutkan atau mengalami tahap exhaustion.
3. Exhaustion yaitu kehabisan sumber daya sehingga pertahanan terhadap stressor berhenti.
Jadi psikosomatis terjadi karena reaksi pertahanan
yang berlangsung lama terhadap stressor.
Teori Diathesis
Stress, menggabungkan kedua teori diatas. Pendekatan ini mempertimbangkan tidak
hanya efek dari kepekaan organ dan dampak stressor lingkungan, tetapi juga
bagaimana individu mempersepsi stressor tersebut dan mengatasinya (Sarnoto,
2016).
Penyebab Psikosomatis
Faktor-faktor
penyebab terjadinya psikosomatis adalah stress, pola perilaku individu
dan kondisi rentan individu terhadap tekanan fisik dan psikis, serta emosi
(Atkinson; McQuade & Aickman dalam Pratiwi & Lailatushifa, 2012).
Analisis Situasi Pandemic dengan Kecenderungan Psikosomatis
Coronavirus
adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau
manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai
dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit
COVID-19. Definisi lain dari Thalia (dalam Zulfa, 2020), Corona Virus Disease (COVID-19) adalah jenis virus
baru yang menular pada manusia dan menyerang gangguan sistem pernapasan sampai
berujung pada kematian. Tanda-tanda umum orang terinfeksi virus ini
adalah demam di atas 380C, batuk, sesak, dan susah bernapas. Penularan COVID-19
pertama kali terjadi di Wuhan, Tiongkok, pada bulan Desember 2019.
Gejala-gejala
COVID-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa
pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, sakit
tenggorokan atau diare, Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan
muncul secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala
apa pun dan tetap merasa sehat.
Berdasarkan
materi di atas mengenai salah satu jenis psikosomatis adalah menyerang
saluran/sistem pernapasan dan COVID-19 ini menyerang sistem pernapasan manusia,
maka ada kecenderungan seseorang mengalami psikosomatis akibat COVID-19.
Karena banyaknya
informasi mengenai COVID-19 ini yang tersebar mulai dari informasi hoax hingga
informasi resmi dan akurat, belum lagi informasi yang bersifat menakut-nakuti.
Semua informasi ini menimbulkan kecemasan pada masyarakat hingga dapat
berdampak pada psikosomatis.
Cara Mengatasi Psikosomatis
Psikosomatis
dapat diatasi dengan melakukan terapi. Beberapa terapi yang dapat dilakukan
adalah sebagai berikut.
1.
Psikoterapi Kelompok dan Terapi
keluarga
Karena
kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan
psikosomatik, modifikasi hubungan tersebut telah diajukan sebagai kemungkinan
focus penekanan dalam psikoterapi untuk gangguan psikosomatik. Toksoz Bryam
Karasu menulis bahwa pendekatan kelompok harus juga menawarkan kontak
intrapersonal yang lebih besar, memberikan dukungan ego yang lebihh tinggi bagi
ego pasien psikosomatis yang lemah dan merasa takut akan ancaman isolasi dan
perpisahan parental. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam
hubungan antara keluarga dan anak. Kedua terapi memiliki hasil klinis awal yang
sangat baik.
2.
Terapi Perilaku
Biofeedback.
Ini adalah terapi yang menerapkan teknik behavior dan banyak digunakan untuk mengatasi
psikosomatik. Terapi yang dikembangkan oleh Nead Miller ini didasari oleh
pemikiran bahwa berbagai respon atau reaksi yang dikendalikan oleh sistem syaraf
otonam sebenarnya dapat diatur sendiri oleh individu melalui operant conditioning.
Biofeedback mempergunakan instrumen sehingga
individu dapat mengenali adanya perubahan psikologis dan fisik pada dirinya dan
kemudian berusaha untuk mengatur reaksinya.
Misalnya seseorang penderita migrain atau sakit
kepala. Dengan menggunakan biofeedback, ia bisa berusaha untuk rileks pada saat
mendengan singal yang menunjukkan bahwa ada kontraksi otot atau denyutan
dikepala.
Penerapan teknik ini pada pasien dengan hipertensi,
aritmia jantung, epilepsy dan nyeri kepala tegangan telah memberikan hasil
terapetik yang membesarkan hati tetapi tidak menyakitkan.
Teknik Relaksasi, Terapi
hipertensi dapat termasuk penggunaan teknik relaksasi. Hasil yang positif telah
diterbitkan tentang pengobatan penyalahgunaan alkohol dan zat lain dengan
menggunakan meditasi transcendental. Teknik meditasi juga digunakan dalam
pengobatan nyeri kepala.
Referensi:
Pertanyaan
dan jawaban terkait coronavirus.
(n.d). https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public. Diakses pada 15 Mei 2020.
Pratiwi, D., & Lailatushifah, S. N. F. (2012).
Kematangan emosi dan psikosomatis pada mahasiswa tingkat akhir. Jurnal
Psikologi. Universitas Wangsa Manggala. Yogyakarta.
Sarnoto, A. Z. (2016). Psikosomatis dan pendekatan psikologi
berbasis al-qur’an.
Zulva, T. N. I. (2020). Covid-19 dan kecenderungan
psikosomatis.
Comments
Post a Comment