A.
Definisi
Internet Addiction
Pesatnya perkembangan teknologi pada masa dewasa ini
membuat dunia seolah-olah dapat ditempuh tanpa batas. Dan karena perkembangan
yang pesat ini, kita dapat dengan mudah mengakses internet dimana pun dan kapan
pun kita berada sebagai sarana untuk memperoleh informasi, berkomunikasi dan
juga berinteraksi dengan orang lain. Namun, dengan kelebihan yang ditawarkan
internet kepada penggunanya ini dapat menyebabkan orang menggunakan internet
secara berlebihan, yang disebut sebagai internet
addiction atau kecanduan internet.
Ada banyak definisi yang tersedia untuk internet addiction. Menurut Weinstein
dan Lejoyeux (2010), internet addiction ditandai
dengan keasyikan yang berlebihan atau tidak terkontrol, desakan atau perilaku
mengenai pemggunaan internet yang mengarah pada gangguan atau kesulitan. Sedangkan
menurut Han et al (dalam King et al., 2011), internet addiction didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu
untuk mengontrol penggunaan internet mereka, yang mengakibatkan kesulitan yang
nyata dan gangguan dalam fungsional kehidupan umum.
Young et al (dalam Widyanto & Griffiths, 2006)
mengklaim kecanduan internet adalah istilah luas yang mencakup berbagai perilaku
dan masalah kontrol impuls. Internet
addiction ini dikategorikan ke dalam lima subtipe, diantaranya adalah:
1. Cybersexual addiction
Penggunaan kompulsif
situs web dewasa untuk cybersex dan cyberporn.
2. Cyber-relationship addiction
Keterlibatan berlebihan
dalam hubungan online.
3. Net compulsion
Perjudian online
obsesif, belanja, atau perdagangan harian.
4. Informational overload
Surfing
web
kompulsif atau pencarian basis data.
5. Computer addiction
Bermain game komputer obsesif.
B.
Faktor
Etiologi Internet Addiction
Biasanya, kecanduan atau addiction memanifestasikan karakteristik psikologis dan fisik.
Ketergantungan fisik terjadi ketika tubuh mengembangkan ketergantungan pada zat
tertentu dan mengalami gejala penarikan setelah menghentikan konsumsi, seperti
obat-obatan atau alkohol. Ketergantungan psikologis menjadi jelas ketika
pecandu mengalami gejala penarikan seperti depresi, mengidam, susah tidur, dan
mudah marah (Young & de Abreu, 2010).
Berikut ini adalah uraian berbagai model yang
diusulkan untuk menjelaskan internet
addiction terkait dengan ketergantungan psikologis. Sebagai kecanduan
perilaku, fokus pada masalah psikologis yang meningkatkan konsumsi internet
sangat membantu pemahaman klinis tentang mengapa orang terlalu sering
menggunakan internet.
1. Cognitive
– Behavioral Model
Menurut Caplan (dalam Young &
de Abreu, 2010), internet addiction
adalah bagian dari kecanduan perilaku. Internet
addiction menampilkan komponen inti dari kecanduan seperti arti-penting,
modifikasi suasana hati, toleransi, penarikan, konflik, dan kambuh (relapse).
Dari perspektif ini, pecandu
internet yang menunjukkan arti-penting kepada kegiatannya, sering mengalami
keinginan mengidam dan merasa asyik dengan internet bahkan saat offline. Caplan (dalam Young & de
Abreu, 2010) mengatakan apabila internet digunakan untuk melepaskan diri dari
perasaan yang meresahkan, mengembangkan toleransi terhadap internet untuk
mencapai kepuasan, mengalami penarikan ketika mengurangi penggunaan internet,
menderita peningkatan konflik dengan orang lain karena kegiatannya tersebut,
dan kambuh kembali (relapse) ke internet,
merupakan tanda-tanda seseorang mengalami kecanduan atau internet addiction.
Maka
dari itu, Greenfield dan Orzack (dalam Young & de Abreu, 2010), mengatakan
bahwa para peneliti menyarankan penggunaan internet yang moderat dan terkontrol
adalah yang paling tepat untuk mengobati internet
addiction. Khususnya, CBT (Cognitive
Behavioral Therapy) yang telah disarankan sebagai mode perawatan terapi
yang disukai untuk penggunaan internet kompulsif. CBT adalah perawatan yang
akrab berdasarkan pada premis bahwa pikiran menentukan perasaan. CBT digunakan
untuk mengajar pasien memantau pikiran mereka dan mengidentifikasi mereka yang
memicu perasaan dan tindakan yang membuat kecanduan sementara mereka
mempelajari keterampilan coping yang
baru dan cara-cara untuk mencegah kekambuhan (relapse). Tahap awal terapi adalah perilaku, dengan fokus pada
perilaku dan situasi tertentu di mana gangguan impulse control menyebabkan kesulitan terbesar. Seiring
perkembangan terapi, ada lebih banyak fokus pada asumsi dan distorsi kognitif
yang telah berkembang dan efek dari perilaku kompulsif.
2. Neuropsychological
Model
Menurut
Young dan de Abreu (2010), ketika memeriksa dorongan primitif yang terkait
dengan kecanduan, penelitian bermula dari perilaku otak yang terkait dengan
ketergantungan kimia. Studi awal telah menyarankan bahwa proses neurokimia
memainkan peran dalam semua kecanduan, baik kecanduan zat atau perilaku. Dopamin
adalah salah satu dari sejumlah neurotransmitter yang ditemukan di sistem saraf
pusat. Dopamin telah menerima perhatian khusus dari psikofarmakologis karena
perannya dalam pengaturan suasana hati dan pengaruhnya, dan dalam proses aktivasi
kesenangan dan reward.
Model
sirkuit otak, yaitu reward yang
diusulkan dalam kecanduan melibatkan peningkatan dopamin ketika area-area
tertentu dari otak distimulasi. Stimulasi seperti makanan dan seks, kafein,
etanol, nikotin, bahkan internet dapat menstimulus otak medial forebrain bundle (MFB) dan nantinya menghasilkan efek kesenangan.
Setelah
menemukan proses neurokimia dalam kecanduan perilaku, para peneliti juga
menemukan efek fisik dan psikologis dari kecanduan dan mengaitkannya dengan perubahan
neurotransmitter di otak. Dan beberapa ahli teori juga berpendapat bahwa semua
kecanduan, terlepas dari jenis-jenisnya seperti seks, makanan, alkohol, dan internet,
dapat dipicu oleh perubahan serupa di otak ini. Dalam studi baru yang dilakukan
di New York mengenai internet addiction,
ditemukan hasil bahwa penderita internet addiction
mengalami kesulitan sosial, pekerjaan, dan bahkan keuangan.
3. Compensation
Theory
The
Institute of Psychology of the Chinese Academy of Sciences mengusulkan “compensation theory (teori kompensasi)”
untuk menjelaskan penyebab internet
addiction bagi kaum muda di China. Secara khusus, Tao (dalam Young & de
Abreu, 2010), berpendapat bahwa “sistem penilaian tunggal” untuk keunggulan
akademik telah mengarahkan banyak kaum muda mencari “spiritual compensation” dari kegiatan online. Selain itu, dengan terlibat dalam kegiatan internet, kaum
muda juga mencari kompensasi untuk identitas diri, harga diri, dan jejaring
sosial.
Seperti
dalam beberapa keadaan, misal menjadi pengasuh di rumah, orang cacat, pensiunan,
atau ibu rumah tangga, dapat membatasi akses seseorang ke orang lain. Dalam kasus
ini, individu lebih cenderung menggunakan internet sebagai kompensasinya untuk
mengembangkan fondasi sosial yang kurang di lingkungan terdekat mereka. Dalam
kasus lain, mereka yang merasa canggung secara sosial atau yang mengalami
kesulitan mengembangkan hubungan yang sehat dalam kehidupan nyata, menemukan kompensasinya
dalam kegiatan online bahwa mereka
dapat mengekspresikan diri mereka lebih bebas dan menemukan persahabatan dan
penerimaan yang hilang dalam kehidupan mereka. Membantu klien untuk memahami
bagaimana menggunakan internet untuk mengkompensasi hilangnya kebutuhan sosial
atau psikologis akan menjadi langkah pertama yang berguna menuju pemulihan.
4. Situational
Factors
Menurut
Young (dalam Young & de Abreu, 2010), faktor situasional berperan dalam
perkembangan internet addiction.
Individu yang merasa kewalahan atau yang mengalami masalah pribadi atau yang
mengalami peristiwa yang mengubah hidup seperti perceraian, perpindahan tempat
tinggal, atau kematian dapat membuat diri mereka tenggelam dalam dunia virtual
yang penuh fantasi. Internet dapat menjadi pelarian psikologis yang mengalihkan
pengguna dari masalah kehidupan nyata atau situasi sulit.
Orang-orang
yang menggunakan internet sebagai pelarian sesaat atau coping dengan stress situasionalnya mungkin awalnya tidak kecanduan
internet. Perilaku mereka mungkin bersifat sementara dan bahkan memudar seiring
waktu. Namun, apabila perilaku mereka menjadi persistent dan berkelanjutan, kegiatan online dapat menjadi sangat meningkat, menjadi lebih kronis dan
semakin mendarah daging dan berkembang menjadi obsesi kompulsif. Pada tahap
ini, hidup menjadi tidak terkendali bagi pecandu, karena hubungan atau karier
terancam karena perilaku kompulsif (Young & de Abreu, 2010).
C.
Dampak
Internet Addiction
Umumnya pengguna yang kecanduan cenderung
menggunakan internet di mana saja dari empat puluh hingga delapan puluh jam per
minggu, dengan satu sesi yang bisa bertahan hingga dua puluh jam. Untuk
mengakomodasi penggunaan berlebihan seperti itu, pola tidur biasanya terganggu
karena masuk larut malam. Pengguna biasanya melewati jam tidur normal dan tetap
online sampai jam dua, tiga, atau
empat pagi dengan kenyataan harus bangun untuk bekerja atau sekolah pada pukul
enam pagi. Depravasi tidur seperti itu dapat menyebabkan kelelahan yang
berlebihan sehingga sering membuat fungsi akademik atau pekerjaan terganggu dan
dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh seseorang, membuat orang rentan
terhadap penyakit. Selain itu, tindakan terus-menerus dari penggunaan komputer
yang lama dapat mengakibatkan kurangnya olahraga dan menyebabkan peningkatan
risiko sindrom carpal tunnel,
ketegangan punggung, atau kelelahan mata. Internet
addiction juga akan menghasilkan masalah keluarga, akademik, dan pekerjaan
yang serupa (Young, 1999).
Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa internet addiction memiliki dampak yang negatif dan berikut adalah dampak-dampaknya.
1. Masalah
Keluarga
Young
(dalam Young, 1999) menemukan berdasarkan hasil survei bahwa masalah hubungan
serius dilaporkan 53%-nya berasal dari pecandu internet. Perkawinan, hubungan
pacaran, hubungan orangtua-anak, dan pertemanan dekat telah dicatat sangat
terganggu oleh "net binges (penggunaan
internet secara berlebihan)”. Pecandu secara bertahap akan menghabiskan lebih
sedikit waktu dengan orang-orang dalam kehidupan mereka dan menggantinya dengan
waktu menyendiri di depan komputer.
Perkawinan
tampaknya paling terpengaruh karena penggunaan internet mengganggu tanggung
jawab dan kewajiban di rumah. Pengguna kecanduan online cenderung menggunakan internet sebagai alasan untuk
menghindari pekerjaan sehari-hari yang dilakukan dengan enggan seperti mencuci,
memotong rumput, atau berbelanja bahan makanan. Tugas-tugas duniawi itu
diabaikan begitu pula kegiatan-kegiatan penting seperti merawat anak-anak. Sebagai
contoh, seorang ibu lupa hal-hal seperti menjemput anak-anaknya sepulang
sekolah, membuatkan mereka makan malam, dan menidurkannya karena ia begitu
asyik dengan penggunaan internetnya.
Mirip
dengan pecandu alkohol yang akan mencoba untuk menyembunyikan kecanduan mereka,
pecandu internet terlibat dalam kebohongan yang sama tentang berapa lama sesi
internet mereka benar-benar berlangsung atau mereka menyembunyikan tagihan
terkait dengan biaya untuk layanan Internet. Karakteristik yang sama ini
menciptakan ketidakpercayaan dan seiring waktu akan merusak kualitas hubungan
yang pernah stabil.
2. Masalah
Akademik
Internet
telah disebut-sebut sebagai alat pendidikan premier yang mendorong
sekolah-sekolah untuk mengintegrasikan layanan internet di lingkungan kelas
mereka. Namun, Young (dalam Young, 1999) menemukan bahwa 58% siswa melaporkan
penurunan kebiasaan belajar, penurunan nilai yang signifikan, bolos kelas, atau
ditempatkan dalam masa percobaan karena penggunaan internet yang berlebihan.
Meskipun
manfaat internet seharusnya menjadi alat penelitian yang ideal, namun siswa justru
menjelajahi situs web yang tidak relevan, terlibat dalam gosip ruang obrolan,
berkomunikasi dengan teman-teman internet, dan bermain game interaktif dengan mengorbankan
aktivitas produktifnya sebagai pelajar.
3. Masalah
Pekerjaan
Penyalahgunaan
internet di antara para karyawan merupakan masalah yang serius bagi para
manajer. Manfaat internet seperti membantu karyawan dengan apa pun, mulai dari
riset pasar hingga komunikasi bisnis, sebenarnya lebih besar daripada
negatifnya bagi perusahaan mana pun, namun ada kekhawatiran yang pasti bahwa
itu merupakan gangguan bagi banyak karyawan. Setiap penyalahgunaan waktu di
tempat kerja menciptakan masalah bagi manajer, terutama karena perusahaan
menyediakan alat bagi karyawan yang dapat dengan mudah disalahgunakan. Seperti misalnya
karyawan justru menghabiskan hampir separuh waktunya di kantor menggunakan akun
internetnya untuk tugas-tugas yang tidak terkait dengan pekerjaan (Young,
1999).
D.
Tindakan
Preventif Internet Addiction
Meskipun ada beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk merawat pecandu internet, akan lebih baik untuk melakukan pencegahan bagi remaja yang belum memenuhi kriteria untuk dianggap sebagai pecandu internet.
Berdasarkan "problem behavior theory" bahwa internet addiction adalah persimpangan dari berbagai fenomena fisik, psikologis, dan teknologi alih-alih masalah tunggal, telah disarankan bahwa program pencegahan diarahkan pada organisasi perilaku masalah yang berbeda (misalnya, penggunaan narkoba, kenakalan) mungkin lebih tepat daripada mereka yang menargetkan perilaku spesifik saja (Busiol & Lee, 2015). Seperti yang telah muncul dari literatur, siswa yang kecanduan internet biasanya menunjukkan kelemahan dalam kinerja sekolah, hubungan keluarga yang buruk, dan masalah suasana hati. Dengan demikian, pencegahan kecanduan internet harus mengatasi masalah mendasar ini, daripada berfokus pada penggunaan perangkat teknologi. Yu dan Shek (dalam Busiol & Lee, 2015) menyarankan bahwa meningkatkan hubungan orang tua-anak, komunikasi, dan pemahaman di antara anggota keluarga dapat menjadi arah yang tepat untuk mencegah internet addiction remaja. Iskender dan Akin (dalam Busiol & Lee, 2015) menyarankan bahwa pencegahan bagi siswa harus bertujuan meningkatkan komunikasi dengan anggota keluarga dan harus mengembangkan keterampilan sosial dan efikasi diri.
E.
Tindakan
Intervensi Internet Addiction
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
menyembuhkan atau melakukan perawatan kepada pecandu internet. Menurut King et
al (2011), sebagian besar penelitian menggunakan intervensi non-farmakologis
untuk internet addiction. Tindakan intervensi
ini termasuk terapi perilaku kognitif (CBT), wawancara motivasi (MI), pelatihan
realitas, atau kombinasi terapi psikologis dan / atau konseling dalam program
perawatan yang dirancang sendiri. Sebagian besar terapi diberikan oleh para
profesional terlatih, dan beberapa diberikan dalam format komputer online. Rezim pengobatan bervariasi dari
satu sesi terapi hingga program yang melibatkan partisipasi hingga 19 bulan.
Sedangkan menurut Young (1999), beberapa teknik
untuk mengobati internet addiction adalah:
1. Berlatih
waktu yang berlawanan dalam penggunaan Internet
Reorganisasi
tentang cara mengatur waktu seseorang adalah elemen utama dalam perawatan
pecandu internet. Oleh karena itu, dokter/klinisi harus mengambil beberapa
menit dengan pasien untuk mempertimbangkan kebiasaan saat ini menggunakan internet.
Dokter harus bertanya kepada pasien, (a) Hari apa dalam seminggu biasanya Anda
masuk (log-in) untuk online? (b) Jam berapa biasanya Anda
mulai? (c) Berapa lama biasanya Anda online
selama satu sesi? dan (d) Di mana Anda biasanya menggunakan komputer?
Setelah dokter mengevaluasi sifat spesifik dari penggunaan internet pasien,
perlu untuk membuat jadwal baru dengan klien. Tujuan dari latihan ini adalah
untuk membuat pasien menyesuaikan kembali pola waktu penggunaan baru dalam
upaya untuk menghentikan kebiasaan online.
2. Menggunakan
sumbat eksternal
Teknik
sederhana lain adalah dengan menggunakan hal-hal konkret yang perlu dilakukan
pasien atau tempat untuk pergi sebagai pembisik untuk membantu logout. Jika pasien harus berangkat
kerja pada jam 7:30 pagi, minta dia login
pada jam 6:30, meninggalkan tepat satu jam sebelum waktunya untuk berhenti.
Bahaya dalam hal ini adalah pasien dapat mengabaikan alarm alami tersebut. Jika
demikian, gunakan jam alarm nyata atau timer.
Tentukan waktu kapan pasien akan mengakhiri sesi internet dan mengatur alarm
dan memberi tahu pasien untuk menyimpannya di dekat komputer. Ketika bunyi
alarm terdengar, itulah saatnya untuk logout.
3. Set
tujuan
Banyak
upaya untuk membatasi penggunaan internet gagal karena pengguna bergantung pada
rencana ambigu untuk memotong jam tanpa menentukan kapan slot online yang tersisa akan datang. Untuk
menghindari kekambuhan (relapse),
sesi yang terstruktur harus diprogram untuk pasien dengan menetapkan tujuan
yang masuk akal, mungkin 20 jam daripada 40 saat ini. Kemudian, jadwalkan dua
puluh jam dalam slot waktu tertentu dan tuliskan ke kalender atau weekly planner. Pasien harus menjaga
sesi internet tetap singkat tetapi sering. Ini akan membantu menghindari
keinginan dan penarikan. Memasukkan jadwal penggunaan internet yang nyata akan
memberi pasien perasaan terkendali, alih-alih membiarkan internet mengambil
kendali.
4. Menjauhkan
diri dari aplikasi tertentu
Dalam
penilaian dokter, aplikasi tertentu seperti ruang obrolan, permainan
interaktif, grup berita, atau World Wide Web mungkin menjadi yang paling
bermasalah bagi pasien. Jika aplikasi tertentu telah diidentifikasi dan
moderasi gagal, maka berpantang dari aplikasi tersebut adalah intervensi yang
sesuai untuk dilakukan berikutnya. Pasien harus menghentikan semua aktivitas di
sekitar aplikasi itu. Ini tidak berarti bahwa pasien tidak dapat terlibat dalam
aplikasi lain yang mereka anggap kurang menarik atau yang digunakan secara sah.
Seorang pasien yang menemukan ruang obrolan membuat mereka ketagihan, mungkin
perlu menjauhkan diri dari aplikasi tersebut. Namun, pasien yang sama ini dapat
menggunakan email atau menjelajahi World Wide Web untuk melakukan pemesanan
maskapai atau berbelanja mobil baru. Contoh lain mungkin seorang pasien yang
menemukan kecanduan World Wide Web dan mungkin perlu berpantang darinya. Namun,
pasien yang sama ini mungkin dapat memindai grup berita yang terkait dengan
topik menarik tentang politik, agama, atau peristiwa terkini.
5. Menggunakan
kartu pengingat
Untuk
membantu pasien tetap fokus pada tujuan pengurangan penggunaan atau pantang
dari aplikasi tertentu, minta pasien membuat daftar, (a) lima masalah utama yang
disebabkan oleh kecanduan internet, dan (b) lima manfaat utama untuk mengurangi
penggunaan internet atau tidak menggunakan aplikasi tertentu.
Selanjutnya,
minta pasien mentransfer kedua daftar ke kartu indeks 3x5 dan minta pasien
menyimpannya di celana atau saku mantel, atau dompet. Instruksikan pasien untuk
mengeluarkan kartu indeks sebagai pengingat tentang apa yang ingin mereka
hindari dan apa yang ingin mereka lakukan untuk diri mereka sendiri ketika
mereka mencapai titik pilihan ketika mereka akan tergoda untuk menggunakan internet
daripada melakukan sesuatu yang lebih produktif atau sehat. Mintalah pasien
mengeluarkan kartu indeks beberapa kali seminggu untuk merenungkan masalah yang
disebabkan oleh penggunaan internet yang berlebihan dan manfaat yang diperoleh
dengan mengendalikan penggunaannya sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi
mereka. Yakinkan untuk membuat daftar keputusan mereka seluas dan semaksimal
mungkin, dan sejujur mungkin. Penilaian konsekuensi yang berpikiran jernih
seperti ini adalah keterampilan yang berharga untuk dipelajari, yang dibutuhkan
pasien nanti, setelah mereka mengurangi penggunaan internet, untuk pencegahan
kambuh (relapse).
6. Mengembangkan
inventaris pribadi
Dokter
harus menginstruksikan pasien untuk membuat daftar setiap kegiatan atau praktik
yang telah diabaikan atau dibatasi sejak kebiasaan online-nya. Sekarang minta pasien untuk memeringkat masing-masing
pada skala berikut: 1 - Sangat Penting, 2 - Penting, atau 3 - Tidak Sangat
Penting. Dalam menilai aktivitas yang hilang ini, minta pasien untuk
benar-benar merefleksikan bagaimana kehidupan sebelum internet. Khususnya,
periksa aktivitas peringkat "Sangat Penting". Tanyakan kepada pasien
bagaimana kegiatan ini meningkatkan kualitas hidupnya.
Latihan
ini akan membantu pasien menjadi lebih sadar akan pilihan-pilihan yang
dibuatnya mengenai internet dan menyalakan kembali aktivitas yang hilang yang
pernah dinikmati. Ini akan sangat membantu bagi pasien yang merasa euforia
ketika terlibat dalam aktivitas online
dengan menumbuhkan perasaan menyenangkan tentang aktivitas kehidupan nyata dan
mengurangi kebutuhan mereka untuk menemukan pemenuhan emosional secara online.
7. Memasuki
Kelompok Pendukung
Dokter
harus membantu klien menemukan kelompok pendukung yang tepat yang paling baik
mengatasi situasinya. Grup pendukung yang disesuaikan dengan situasi kehidupan
khusus pasien akan meningkatkan kemampuan pasien untuk berteman dengan situasi
yang sama dan mengurangi ketergantungan mereka pada perilaku online. Jika seorang pasien memimpin
salah satu dari "gaya hidup kesepian", maka mungkin pasien tersebut
dapat bergabung dengan kelompok pertumbuhan interpersonal lokal, kelompok
lajang, kelas keramik, liga bowling, atau kelompok gereja untuk membantu
bertemu orang baru. Jika pasien lain baru-baru ini menjadi janda, maka kelompok
pendukung yang berkabung mungkin yang terbaik. Jika pasien lain baru saja
bercerai, maka kelompok pendukung perceraian mungkin yang terbaik. Begitu
orang-orang ini menemukan hubungan kehidupan nyata, mereka tidak akan terlalu
bergantung pada internet untuk kenyamanan dan pemahaman yang hilang dalam
kehidupan nyata mereka.
8. Terapi
Keluarga
Terapi keluarga
mungkin diperlukan di antara pecandu yang pernikahan dan hubungan keluarganya
telah terganggu dan dipengaruhi secara negatif oleh internet addiction. Intervensi dengan keluarga harus fokus pada
beberapa bidang utama: (a) mendidik keluarga tentang bagaimana internet dapat
menjadi candu, (b) mengurangi kesalahan pada kecanduan untuk perilaku, (c)
meningkatkan komunikasi terbuka tentang masalah pra-morbid di keluarga yang
mendorong pecandu untuk mencari pemenuhan kebutuhan psikologis emosional secara
online, dan (d) mendorong keluarga
untuk membantu dengan pemulihan pecandu seperti menemukan hobi baru, mengambil
liburan panjang selama liburan, atau mendengarkan perasaan pecandu. Rasa
dukungan keluarga yang kuat memungkinkan pasien pulih dari kecanduan internet.
DAFTAR PUSTAKA
Busiol,
D., & Lee, T. Y. (2015). Prevention of internet addiction: the PATHS
program. In Student Well-Being in Chinese Adolescents in Hong Kong,
185-193.
King,
D. L., Delfabbro, P. H., Griffiths, M. D., & Gradisar, M. (2011). Assessing
clinical trials of internet addiction treatment: a systematic review and consort
evaluation. Clinical Psychology Review, 31(7),
1110-1116.
Weinstein,
A., & Lejoyeux, M. (2010). Internet addiction or excessive internet
use. The American Journal of Drug and Alcohol Abuse, 36(5),
277-283.
Widyanto,
L., & Griffiths, M. (2006). Internet addiction: a critical review. International
Journal of Mental Health and Addiction, 4(1), 31-51.
Young,
K. S. (1999). Internet addiction: symptoms, evaluation and treatment. Innovations
in Clinical Practice: A Source Book, 17(17), 351-352.
Young,
K. S., & de Abreu, C. N. (2011). Internet
addiction: a handbook and guide to evaluation and treatment. New Jersey:
John Wiley & Sons Inc.
Comments
Post a Comment