Skip to main content

Metode Ilmiah Memperoleh Pengetahuan dan Mitos Jodoh di Cirebon

Halo, semuanya! Kembali lagi dengan saya. Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu yang sudah saya dapat sekaligus ingin menceritakan tentang mitos. Disini fokus pembahasan saya adalah saya akan menjelaskan bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan dengan metode ilmiah dan juga mitos dari kota udang yang terkenal ini. Apakah ada yang penasaran? Kalau ada, yuk kita langsung masuk ke pembahasannya.


A.   Memperoleh Pengetahuan dengan Metode Ilmiah

                        Seperti yang sudah kita ketahui bahwa pengetahuan itu penting sekali. Bagaimana orang-orang bisa belajar? Itu karena mereka mendapatkannya dari pengetahuan. Namun, bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan? Ada beberapa cara atau metode dalam memperoleh pengetahuan, di antaranya yaitu metode non ilmiah dan metode ilmiah.

1.      Metode Non-Ilmiah
            Metode non ilmiah merupakan suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah. Namun dalam pemecahan masalah tersebut hanya berdasarkan pendapat dari ahli pikir atau dari para penguasa yang dianggap benar. Padahal anggapan itu belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya.

2.      Metode Ilmiah
            Metode ilmiah merupakan cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol. Metode ilmiah merupakan rangkaian struktur kerja yang tidak dapat dipisahkan. Metode ilmiah juga merupakan cara untuk menunjukkan dan memberi bukti akan kebenaran suatu teori dan atau pernyataan terkait dengan yang akan dikemukakan. Suatu penelitian akan dikatakan berhasil dengan baik apabila dilakukan dengan struktur metode ilmiah, seperti perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir atau dasar teori, penarikan hipotesis, eksperimen atau percobaan, analisis data, dan penarikan kesimpulan.
            Pengetahuan dapat dikatakan ilmiah apabila memenuhi 4 syarat berikut, diantaranya yaitu:
1.      Objektif
Artinya, pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, maksudnya adalah bahwa kesesuaian atau dibuktikan dengan hasil pengindraan.
2.      Metodik
Artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu dan terkontrol.
3.      Sistematik
Artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri (satu dan yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh).
4.      Berlaku umum
Artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja, melainkan semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.

Dari penjelasan di atas kita juga sudah tahu bahwa baik metode non ilmiah maupun metode ilmiah, keduanya menggunakan pengumpulan data. Lalu, bagaimana cara kita untuk mengumpulkan data tersebut?
Dalam proses pengumpulan data tersebut, ada tiga cara yang dapat kita lakukan, yaitu:
1.      Observasi / Pengamatan
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan terhadap semua kejadian atau fenomena yang diamati secara langsung di lapangan. Pengamatan dibagi lagi menjadi berikut.
a.       Pengamatan Langsung (Direct Observation)
Peneliti dapat lebih mengenal karakteristik lokasi, fenomena, dan juga subjek penelitian. Pengamatan langsung dibagi lagi menjadi 2, yaitu:
Ø  Participant observation: pengamat atau peneliti berbaur dengan anggota masyarakat dan seolah-olah pengamat adalah anggota masyarakat tersebut
Ø  Nonparticipant observation: seorang pengamat melakukan observasi langsung , tetapi tetap memberi batasan bahwa dia adalah seorang peneliti /pengamat yang berdiri di luar system.
b.      Pengamatan Tidak Langsung (Indirect Observation)
Pengamatan atau pencatatan yang dilakukan tidak pada saat peristiwa terjadi.
c.       Pengamatan Berdasarkan Bentuknya
Pengamatan ini di bagi dua, yaitu pengamatan berstruktur (formal) dan pengamatan tak berstruktur (informal).

2.      Wawancara
Yaitu  metode pengumpulan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden. Caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Teknik wawancara dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu: wawancara terencana dan wawancara tanpa rencana.
1.      Wawancara Terencana
            Untuk melakukan wawancara ini, peneliti sebelum terjun ke lapangan harus menyusun dulu daftar pertanyaan yang akan diajukan ke responden. Pertanyaannya harus yang seragam dan dengan Bahasa dan tata urut yang seragam pula agar tidak sukar untuk dibandingkan satu sama lain.
2.      Wawancara Tanpa Rencana
            Seorang peneliti tidak perlu menyusun daftar pertanyaan yang ketat, tetapi harus mempunyai struktur seperti metode wawancara psikoanalisa, atau wawancara untuk mengumpulkan data riwayat hidup. Maka, wawancara tanpa rencana ini dapat di golongkan menjadi dua, yaitu: wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur.
            Koentjaraningrat (dalam Danandjaja, 1998; 102 – 103) membagi wawancara tak berstruktur menjadi dua golongan, yaitu wawancara berfokus dan wawancara bebas.
a.       Wawancara Berfokus
Wawancara ini terdiri dari pertanyaan – pertanyaan yang tidak memiliki
struktur tertentu, namun selalu terpusat pada satu pokok masalah.
b.      Wawancara Bebas
Wawancara ini tidak memiliki pusat, sehingga pertanyaan dapat beralih – alih dari satu pokok ke pokok lainnya.

3.      Kuesioner
Yaitu daftar pertanyaan yang dikirim kepada responden baik secara langsung maupun tidak langsung. Kuesioner atau bisa dibilang juga angket secara umum dapat berbentuk pertanyaan atau pernyataan yang dapat dijawab sesuai bentuk angket. Ada dua jenis kuesioner atau angket, diantaranya adalah sebagai berikut.
a.       Kuesioner terbuka
Merupakan daftar pertanyaan yang memberi kesempatan kepada responden untuk menuliskan pendapat mengenai pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.
b.      Kuesioner tertutup
Merupakan daftar pertanyaan yang alternatif jawabannya telah disediakan oleh peneliti. Cara ini sering kali dianggap efektif karena responden dapat langsung membubuhkan tanda centang (Ö) dalam kolom yang telah disediakan.

B.   Mitos Patung Batu Perawan Sunti di Goa Sunyaragi Cirebon

      Okay, jadi sebelum masuk ke pembahasan. Saya ingin memberitahu sedikit tentang asal-usul keluarga saya dan kenapa saya membahas masalah mitos tentang ini.
      Pertama-tama, kebetulan saya adalah anak dari kedua orang tua yang sama-sama berasal dari Jawa Barat. Tepatnya, ibu saya dari kota Cirebon dan ayah saya dari kota Bogor. Namun, kali ini saya hanya akan membahas mitos yang berasal dari kota Cirebon saja. Alasan saya membahas mitos ini adalah karena kebetulan ibu saya berasal dari kota udang tersebut dan saya ingin berbagi mengenai mitos dari daerah itu sendiri. Nah, untuk yang penasaran yuk langsung disimak!

      Mitos adalah suatu cerita tradisional mengenai peristiwa gaib dan kehidupan dewa-dewa. Istilah mitos (mythos) berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah “perkataan” atau “cerita”. Orang pertama yang memperkenalkan istilah mitos adalah Plato. Plato memakai istilah muthologia yang artinya menceritakan cerita. Dalam KBBI, dijelaskan bahwa mitos adalah cerita suatu bangsa tentang asal-usul semesta alam, manusia dan bangsa itu sendiri. Sedangkan dalam Webster’s Dictionary, mitos adalah perumpamaan atau alegori, yang keberadaannya hanya merupakan khayal yang tak dapat dibuktikan. Mitos termasuk dalam salah satu jenis dongeng.

      Salah satu tempat wisata sekaligus bersejarah di Kota Cirebon adalah Taman Sari Goa Sunyaragi. Kompleks gua ini merupakan peninggalan dari masa Kesultanan Cirebon dan termasuk salah satu bagian dari Keraton Pakungwati.
      Tempat yang megah nan cantik ini memiliki beberapa mitos yang dipercaya secara turun temurun. Diadaptasi dari bahasa Sansekerta, Sunyaragi terdiri dari kata "sunya" yang berarti sepi dan "ragi" yang artinya raga. Lokasi ini secara resmi ditulis Goa Sunyaragi, ditulis dengan kata goa bukan gua seperti yang dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
      Goa Sunyaragi dipercaya didirikan oleh cicit dari Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Kararangen pada tahun 1703. Luasnya sekitar 15 hektare dan terdiri dari dua bagian, yaitu pesanggrahan dan gua. Di bagian pesanggrahan terdiri dari kamar tidur, serambi, ruang rias, dan ruang ibadah. Yang unik adalah bagian pesanggrahan ini dikelilingi oleh taman dan kolam, meskipun kini kolamnya telah surut. Sedangkan di bagian gua terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda.
      Menariknya, ada beberapa mitos terkait soal perjodohan di tempat wisata nan bersejarah ini. Ia mengatakan bahwa ada patung yang terbuat dari batu dan tidak boleh disentuh sama sekali oleh para lajang. Konon katanya, jika batu tersebut dipegang oleh mereka yang belum menikah, maka mereka yang memegang batu tersebut diperkirakan tidak akan mendapatkan jodoh selamanya.
      Patung tersebut adalah patung batu Perawan Sunti yang memiliki arti perawan seumur hidup. Dikatakan lebih lanjut, bahwa patung ini hanya boleh dipegang oleh mereka yang pernah menikah, terkecuali wanita yang berstatus janda yang juga dilarang menyentuh patung ini. Tapi apabila secara tidak sengaja sudah menyentuh patung batu tersebut, ada hal yang bisa dilakukan untuk menangkalnya, yaitu berjalan masuk ke dalam Gua Kelanggengan yang merupakan salah satu ruangan di dalam Goa Sunyaragi. Gua Kelanggengan dipercaya bisa melanggengkan sesuatu termasuk masalah jodoh.
      Tak hanya mitos, cerita mistis lainnya pun juga beredar di komplek Gua Sunyaragi. Ada sebuah candi yang dulunya menjadi singgah sana sang sultan Cirebon dan dianggap sebagai candi paling sakral.
      Jika ada anak kecil yang sengaja didudukkan di tempat tersebut, lalu kemudian momen tersebut diabadikan dalam bentuk foto maka jangan heran jika nantinya hasil foto tersebut akan tampak sesuatu yang aneh.
      Mungkin setelah penjelasan di atas, ada di antara kalian yang bertanya mengapa mitos tersebut bisa muncul? Menurut pendapat saya, mitos tersebut muncul karena beberapa faktor, seperti kebetulan misalnya. Mungkin saja, saat itu kebetulan ada seseorang yang belum menikah menyentuh pohon tersebut dan secara kebetulan pula dia memang tidak menemukan jodohnya selama dia hidup. Sehingga akhirnya karena ke-sok tahu-an orang-orang, munculah berita yang menyebar dari mulut ke mulut yang dipercayai orang-orang hingga saat ini. 
      Namun, meskipun tempat wisata ini terdapat mitos dan bahkan ada cerita mistis, itu merupakan hak individu untuk mempercayainya atau tidak. Kita dapat melihat sisi lain untuk tidak boleh menyentuh patung tersebut secara sembarangan orang adalah agar kita dapat menjaga dan merawat peninggalan bersejarah agar tidak rusak nantinya dan masih akan tetap ada hingga anak cucu kita lahir.

Okay, sekian dulu pembahasan kali ini semoga bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih!


Referensi:
KaryaTulisku. 2015. Metode Ilmiah dan Metode Non Ilmiah. http://www.karyatulisku.com/2015/04/metode-ilmiah-dan-metode-non-ilmiah.html?m=1. Diakses 20 Maret 2019.
Koentjaraningrat. 2015. Pengantar Ilmu Antropologi. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
DosenSosiologi. 2018. Pengertian Kuesioner, Jenis, dan Contohnya Lengkap. http://dosensosiologi.com/pengertian-kuesioner-jenis-dan-contohnya-lengkap/. Diakses 20 Maret 2019.
PengertianAhli. 2014. Pengertian Mitos: Apa itu Mitos? https://pengertianahli.id/2014/08/pengertian-mitos-apa-itu-mitos.html. Diakses 20 Maret 2019.
PikiranRakyat. 2018. Antara Mitos dan Jodoh di Goa Sunyaragi Cirebon. https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/02/03/antara-mitos-dan-jodoh-di-goa-sunyaragi-cirebon-418796. Diakses 20 Maret 2019.
kumparanSTYLE. 2017. Mitos Patung Batu Perawan Sunti di Gua Sunyaragi Cirebon. https://kumparan.com/@kumparanstyle/mitos-patung-batu-perawan-sunti-di-gua-sunyaragi-cirebon. Diakses 20 Maret 2019.


Comments

Popular posts from this blog

ANALISIS KASUS CYBERBULLYING YANG DIALAMI BETRAND PETO (TUGAS KULIAH MENGENAI ETIKA DALAM MENGGUNAKAN INTERNET)

Contoh Kasus: Pada tanggal 11 November 2019 lalu ada berita mengejutkan datang dari dunia hiburan. Seorang anak dari Ruben Onsu presenter terkenal Indonesia, yaitu Betrand Peto mengalami hal yang tidak mengenakkan. Manajer Betrand, Terry Suhendra bersama dengan Minola Sebayang selaku pengacara keluarga Onsu mendatangi Polda Metro Jaya, Jakarta untuk melaporkan kasus dimana Betrand menjadi korban dari aksi perundungan yang dilakukan oleh sejumlah oknum pengguna media sosial. Perundungan ini dilakukan oleh para pelaku, yaitu selaku netizen pengguna media sosial dengan cara mengedit foto wajah Betrand Peto kemudian menggantinya dengan gambar wajah hewan dan mengunggah foto tersebut di akun media sosialnya. Ada pula pelaku yang menulis di akun media sosialnya bahwa ia mengancam ingin merobek perut Betrand Peto dan ada kata-kata yang tidak bagus lainnya. Akun-akun media sosial yang digunakan oleh para pelaku adalah akun Facebook dan Instagram. Dari keterangan yang dijelaskan oleh pihak ...